SEJARAH DESA

Desa Tambahmulyomerupakan suatu Desa yang sangtlah luas dan banyak penduduknya, di Desa ini terdapat dua pedukuhan yaitu dukuh Mbakkapas dan dukuh Banglean. Asal usul dari Desa ini hanya cerita orang-orang dari mulut ke mulut, konon katanya dapat diberikan nama Mbakkapas awalnya yaitu dahulu kala di depan Masjid Jami’ Tambahmulyo terdapat sungai besar dan luas , serta airnya mengalir begitu deras. Tempat air tersebut berada diseberang jalan yang jalannya berbelok ke arah utara. Pada saat itu orang-orang krigan berfikir untuk membendung sungai tersebut, salah satu orang menyuruh untuk membendung sungai tersebut menggunakan batang kapas, bentuk dari batang kapas tersebut ukurannya lumayan besar, kemudian diambilkanlah batang kapas tersebut dari sawah untuk membendung sungai tersebut agar kuat untuk menahan bendungan tersebut. Dengan terbentuknya bendungan tadi diharapkan dapat bermanfaat untuk warga desa, kemudian ada salah satu orang tua yang berkata  bahwa nanti untuk memberikan nama desa ini dengan sembutan Mbakkapas yang berasal dari sebuah tambak/bendungan  yang di bendung/sumbat menggunakan kapas.

Sedangkan untuk dukuh Banglean hanya sedikit cerita yang diketahui, yaitu pada zaman dahulu, terdapat orang nakal di daerah bangklean selatan dan mereka main di tempat yang tersembunyi yaitu di tempat rerumpunan blangke, pohon blangke merupakan pohon yang dibuat untuk bobok anak-anak ketika kecil, konon katanya pohon blangke itu dapat menjadi obat orang yang sedang demam. Oleh sebab itu dukuh ini disebut dengan dukuh Blangkean.Beberapa tahun kemudian terdapat aturan dari pemerintah yang menjadikan desa ini dinamai dengan Desa Tambahmulyo.

Sosok orang yang sudah menata Desa ini atau dengan kata lain babat alas yaitu Mbah H. Hasan Sonto yang berasal dari Ponorogo, Jawa Timur. Mbah Hasan di Desa Tambahmulyo tidak hanya menata Desa namun juga sekaligus menyebarkan nilai-nilai agamis di Desa Tambahmulyo, sebagai bentuk hormat kepada beliau, maka warga Desa Tambahmulyo membuatkan makam khusus untuk Mbah Hasan, yang letaknya berada di depan Masjid Jami’ Tambahmulyo sebagai bentuk mengingat jasa-jasa Mbah Hasan yang telah menyebarkan ilmu agama di Desa Tambahmulyo. Di Desa Tambahmulyo terdapat empat punden, konon katanya menurut orang zaman dahulu, punden merupakan suatu tempat berkumpulnya orang-orang untuk memanjatkan do’a.letak punden di Desa Tambahmulyo berbeda-beda, yaitu:

  1. Depan masjid Jami’ (Mbah Hasan)
  2. Di daerah Brengkalan (Mbakkapas putihan)
  3. Batang yang dibuat pagar tembok di daerah Tlogorejo (mbah brumbung)
  4. Dekat Caper atau sebelah barat desa bangklean (punden gempol)

sumber: (wawancara dengan Mbah H. Sajuri, warga Desa Tambahmulyo)